Powered By Blogger

Senin, 25 Februari 2013

unsur penyulyh pertanian

UNSUR-UNSUR PENYULUHAN PERTANIAN
Kompetensi Umum : Setelah menyelesaikan mata kuliah ini selama satu semester, mahasiswa dapat mendesain dan melaksanakan suatu kegiatan penyuluhan.
Kompetensi Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan tentang :
1. Sumber Penyuluhan pertanian 
2. Materi Penyuluhan pertanian
3. Metode Penyuluhan pertanian
4. Sasaran Penyuluhan pertanian
Waktu : 2 x 60 menit
Pokok Bahasan : Unsur-Unsur Penyuluhan Pertanian
Pertemuan : IV dan V 


PEMBAHASAN

@. Pengertian Unsur-Unsur Penyuluhan Pertanian.
Unsur-unsur penyuluhan pertanian yaitu semua faktor yang terlibat dalam kegiatan penyuluhan pertanian dan bersifat saling menunjang. Dalam artian, antara faktor yang satu dengan faktor yang lain tidak dapat dipisahkan. Yang termasuk unsur-unsur penyuluhan pertanian, adalah sebagai berikut :
a. Sumber Penyuluhan Pertanian (Tenaga Penyuluh)
b. Materi Penyuluhan Pertanian
c. Metode Penyuluhan Pertanian
d. Sasaran penyuluh Pertanian

@. Sumber Penyuluhan Pertanian (Tenaga Penyuluh).
Penyuluh pertanian adalah orang yang bertugas memberikan dorongan kepada para petani sehingga terjadi perubahan cara berpikir, cara bekerja dan cara hidupnya dengan memanfaatkan berbagai teknologi pertanian terbaru yang relevan dengan kondisi jaman dan lingkungan sosial.

Seorang tenaga penyuluh harus mempunyai 3 peranan penting, yaitu;
a. Sebagai fasilitator, memberikan pengetahuan, fasilitas atau cara-cara baru dalam bertani/beternak sehingga petani lebih terarah dalam meningkatkan usahanya.
b. Sebagai mediator, menghubungkan kepentingan lembaga pemerintah / lembaga penyuluhan dengan sasaran penyuluhan sehingga terjadi perubahan pola pikir dan pola kerja dalam kaitannya mensukseskan program pemerintah..
c. Sebagai dinamisator, menimbulkan perubahan melalui pelayanan, peragaan atau contoh, pemberian petunjuk serta motivasi kepada petani/peternak.

Penyuluh pertanian hadir untuk membantu petani dalam mengembangkan atau menata ulang perilakunya agar menjadi petani yang modern, tangguh dan efisien. Untuk itulah seorang tenaga penyuluh harus memiliki beberapa sifat, antara lain :
a. Mencintai tugas yang diembannya; 
b. Layak dipercaya dan memberikan perhatian kepada sasaran penyuluhan;
c. Memiliki keyakinan bahwa apa yang disuluhkan dapat diterima sebagai upaya untuk meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani/peternak serta merupakan bagian dari pembangunan pertanian;
d. Menguasai kemampuan komunikasi, ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian;
e. Luwes, berpenampilan menarik, berperilaku baik, dan cepat beradaptasi;
f. Beritikad baik, sabar dan tekun;
g. Pandai menyelami jiwa atau perasaan serta keinginan para petani/peternak serta selalu siap memberikan bantuan dan pelayanan;
h. Memiliki disiplin kerja yang kuat (selalu ada jika dibutuhkan petani-peternak); 
i. Jiwa mendidik, tidak cepat putus asa, tidak bersikap masa bodoh terhadap sesama dan lingkungan;
j. Dinamis, progresif dan demokratis;
k. Mau belajar, melatih ketrampilan dan kecakapan praktis sesuai perkembangan;

Berdasarkan tugasnya, maka penyuluh pertanian dibedakan atas :
a. Penyuluh yang langsung berhubungan dengan para petani/peternak. Contoh; Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Penyuluh Pertanian Madia (PPM).

b. Penyuluh yang tidak langsung berhubungan dengan para petani/peternak. Umumnya terdiri dari dari para ahli pertanian/peternakan, contoh; pegawai pada Dinas Pertanian, atau instansi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan pertanian; Balai Benih, BPTP, Bank, Perguruan Tinggi dan lainnya.

@. Materi Penyuluhan Pertanian
Dalam proses komunikasi pertanian, antara penyuluh dengan sasaran penyuluhan, akan disampaikan segala hal menyangkut ilmu dan teknologi pertanian-peternakan yang kesemuanya itu disebut sebagai materi penyuluhan. Sehingga materi penyuluhan adalah segala sesuatu yang disampaikan dalam kegiatan penyuluhan pertanian.
Ilmu bersifat teori dan dengan bantuan ilmu petani dapat memikirkan segala sesuatu yang relevan dengan kondisi usahatani yang sedang dijalankan, sedangkan teknologi bersifat praktek yakni berupa penjabaran atau apa yang harus dilakukan dari apa yang telah dipikirkan. Oleh karena itu, materi penyuluhan haruslah sesuai dengan kebutuhan sasaran penyuluh (petani-peternak) sehingga dengan demikian sasaran penyuluhan akan memiliki perhatiannya dan termotivasi untuk mempraktekkannya. Dalam bahasa teknik penyuluhan pertanian, materi penyuluhan seringkali disebut sebagai informasi pertanian (Berisi data atau bahan yang dibutuhkan penyuluh, petani-peternak dan masyarakat tani).
Agar penyuluhan itu dapat diterima dan dimanfaatkan oleh sasaran penyuluhan, maka syarat-syarat materi penyuluhan yang dibuat haruslah :
a. Sesuai dengan tingkat kemampuan sasaran, sehingga dapat dipraktekkan,
b. Memiliki resiko kegagalan yang relative kecil dan biaya rendah.
c. Mudah dilakukan dan bersifat praktis.
d. Tidak bertentangan dengan tata adat, kepercayaan dan pola pertanian-peternakan yang telah terbiasa dilakukan (tidak bertentangan dengan nilai dan norma yang ada),
e. Memberikan keuntungan secara nyata bagi sasaran penyuluhan (Berpengaruh positif terhadap tingkat kehidupan petani/petrenak),
f. Mengesankan dan memotivasi petani/peternak untuk melaksanakan perubahan dan cara pikir, cara kerja dan cara hidup menuju perkembangan dan kemajuan,
g. Menggairahkan para petani/peternak sehingga mereka seakan-akan terbujuk untuk selalu mau memperhatikan, menerima, mencoba dan melaksanakan/menerapkannya dalam usahanya.

Selain itu, kegiatan penyuluhan dapat berisikan beberapa materi seperti :
• Pengalaman Þ misalnya pengalaman petani yang sukses mengembangkan komoditas tertentu.
• Hasil pengujian/hasil penelitian
• Keterangan pasar.
• Kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Sebuah materi penyuluhan yang baik haruslah dapat diukur kelayakannya, yaitu : 
• Secara ekonomi menguntungkan
• Secara teknis dapat diterapkan
• Secara sosial dapat dipertanggungjawabkan
• Tidak merusak lingkungan
Þ Tercipta better living, better farming, better business, dan better environment

@. Metode Penyuluhan Pertanian
Untuk mencapai tujuan kegiatan penyuluhan secara baik dan terarah, diperlukan metode atau cara-cara penyuluhan pertanian yang bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan sehingga para petani-peternak dapat “menolong dirinya sendiri”, mengubah memperbaiki pola pikir, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya.

Dalam kegiatan penyuluhan kita mengenal ada 3 metode pendekatan penyuluhan, yaitu : 
a. Metode pendekatan perorangan (personal approach method)
Melakukan hubungan atau pendekatan secara langsung dengan sasaran yaitu seorang petani, biasanya dilakukan secara berdialog langsung, melakukan kunjungan ke rumah, sawah/ladang/padang/kandang, surat menyurat, melalui telepon, dll. Metode ini sangat efektif, tetapi akan banyak menyita waktu dan energi.
b. Metode pendekatan kelompok (Group approach method)
Dilakukan terhadap kelompok tani dimana para petani diajak dan didampingi serta diarahkan secara berkelompok untuk melaksanakan suatu kegiatan yang tentunya lebih produktif atas dasar kerja sama, dengan saling tukar pendapat dan pengalaman, demonstrasi, kursus,karyawisata, perlombaan kelompok, dan lainnya yang sifatnya kelompok. Metode ini biasanya lebih berdaya guna dan hasilnyapun akan lebih mantap.
c. Metode pendekatan massal (mass approach method)
Penyuluhan dengan metode ini dapat menggunakan media surat kabar, majalah atau brosur pertanian-peternakan, radio, televisi, film, slide dan media lainnya. Dipandang dari segi penyampaian informasi memang metode ini baik, akan tetapi dipandang dari keberhasilannya adalah kurang efektif karena pada dasarnya hanya dapat menimbulkan tahap kesadaran dan tahap minat pada para petani/peternak pendengar penyuluhan, itupun kalau pendekatan-pendekatannya dapat dilakukan dengan baik, dapat menarik perhatian para petani/peternak kepada sesuatu hal yang lebih menguntungkan.

Sedangkan menurut mekanisme diterimanya materi/isi penyuluhan oleh para petani/peternak, maka metode penyuluhan dapat dibedakan atas:
a. Metode yang dapat didengar, yaitu pesan-pesan penyuluh akan diterima petani/peternak melalui pendengaran. Misalnya percakapan tatap muka, telepon, radio, tape recorder, pidato, ceramah dan lainnya.
b. Metode yang dapat dilihat, yaitu pesan-pesan penyuluh dapat dilihat atau diterima melalui penglihatannya. Misalnya pesan dalam bentuk gambar, spanduk/poster, leaflet, brosur, film bisu, pameran tanpa penjelasan vocal, slides dan lainnya.
c. Metode yang dapat di dengar dan dilihat, yaitu pesan-pesan penyuluh disampaikan melalui peragaan yang disertai petunjuk-petunjuk lisan, gambar di televisi, film bersuara, telepon bergambar, karyawisata, demonstrasi dan lainnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan metode penyuluhan :
• Tidak ada satu metode penyuluhan yang dianggap lebih baik dibanding metode penyuluhan yang lainnya
• Pada umumnya dalam pelaksanaan penyuluhan digunakan beberapa metode
• Dalam kegiatan penyuluhan sebaiknya digunakan materi visual dan tertulis

Sedangkan prinsip-prinsip yang harus diketahui dalam metode penyuluhan, adalah sebagai berikut :
• Pengembangan untuk berpikir kreatif
• Dilakukan di lingkungan kerja/kegiatan sasaran
• Setiap individu terikat dengan lingkungan sosialnya
• Memberikan sesuatu untuk terjadinya perubahan
• Menciptakan hubungan yang akrab dengan sasaran 

@. Sasaran Penyuluhan Pertanian
Sasaran penyuluhan pertanian yaitu siapa sebenarnya yang akan disuluh atau ditujukan kepada siapa penyuluhan tersebut. Sehingga dalam konteks yang demikian, sasaran penyuluhan pertanian adalah para petani/peternak beserta keluarganya.

Sasaran penyuluhan dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu :

 Sasaran utamaØ
• Petani dan keluarganya
• Langsung terlibat dalam kegiatan
• Petani: tidak bodoh; mempunyai harga diri; memiliki banyak pengalaman; menjunjung norma, adat istiadat, dll.; memerlukan bukti nyata
• Perlu dilakukan identifikasi sebelum melaksanakan penyuluhan

 Sasaran penentuØ

• Tidak terlibat langsung/bukan pelaksana kegiatan bertani, tetapi secara langsung /tidak langsung terlibat dalam penentuan kebijakan dan/atau menyediakan kemudahan-kemudahan pelaksanaan dan pengelolaan usahatani
• Pimpinan lembaga pertanian, peneliti/ilmuwan, lembaga perkreditan, pedagang, produsen dan penyalur saprodi-alsintan, pengusaha/industri pengolahan hasil pertanian

 Sasaran PendukungØ
• Secara langsung atau tidak langsung tidak memiliki hubungan dengan kegiatan pertanian tetapi dapat dimintai bantuan guna kelancaran penyuluhan pertanian
• Pekerja sosial, seniman, biro iklan, konsumen hasil pertanian

Menurut ROGERS berdasarkan hasil penelitiannya, menyebutkan sifat-sifat umum yang dimiliki oleh masyarakat desa:
b. Mutual distrust in interpersonal relation
Pada umumnya mereka kurang saling merasakan dalam pergaulan diantara mereka sendiri. Para petani lainnya jarang melakukan pendekatan, mencari informasi nyata kegiatan dari petani lain yang maju, bahkan kemajuan petani lain dianggap melakukan hal yang “bukan-bukan”.
c. Lack and difficult to innovate new ideas and technology
Sulit dan sangat kekurangan daya untuk mendapatkan paham/ide-ide baru, pada umumnya para petani/peternak selalu tertutup sehingga tidak mampu menemukan ide-ide baru bahkan untuk menerapkan cara-cara baru yang masuk ke dalam masyarakatnya harus melalui beberapa tahapan dan baru akan menerimanya setlah nyata keyakinannya bahwa akan menguntungkan.
d. Lack thinking for the future (fatalism)
Kurang kemampuannya untuk memikirkan kehidupannya di masa depan. Segala sesuatu hanya terpikirkan untuk masa sekarang, soal masa depan adalah soal nanti. Kurang ada usaha untuk memecahkan masalah dan terlalu menitik beratkan pada nasib.
e. Low aspirational level
Motivasinya untuk memikirkan peningkatan atau perbaikan pada yang sekarang dialami adalah rendah, demikian pula aspirasinya untuk meningkatkan taraf hidupnya.
f. Lack of deffered to gradification
Umumnya mereka kurang dapat mengekang nafsu, tidak dapat menahan diri terhadap sesuatu yang diinginkannya, kurang cermat dan tidak mampu mengambil keputusan yang menguntungkan.
g. Limited time expected
Umumnya mereka kurang dapat membedakan apa yang kini sedang mereka hadapi, yang sudah terjadi dan apa yang mungkin bakal mereka hadapi. Kenangan masa lampau sangat berbekas pada diri mereka, sehingga perencanaan untuk masa depan tidak diperhatikannya.
h. Familism
Jalinan dengan keluarga sendiri sangat erat sehingga kerapkali jalinan dengan orang lain terabaikan, terutama dalam hal saling koreksi. Dalam masyarakat yang menganut sistem marga selalu terdapat kecurigaan terhadap mereka yang bukan sanak.
i. Dependent upon government authority
Pembuatan sarana-sarana yang menunjang dan melancarkan usaha pertanian/peternakan (irigasi, jalan, jembatan, dll) menurut anggapan kebanyak mereka merupakan kewajiban dari pejabat penguasa (pemerintah).
j. Local likeness
Sifatnya sangat lokal, gerakannya dalam masyarakat demikian terbatas sehingga kebanyakan dari mereka kurang mengetahui perubahan-perubahan keadaan yang beralangsung diluar lingkungannya.
k. Lack of impaty
Umumnya kurang mampu untuk mengetahui dan menempatkan diri dalam kemauan/kehendak orang lain sehingga seringkali sulit untuk berkomunikasi.

Beberapa istilah sasaran penyuluhan dalam penyuluhan pertanian:
– Petani naluri adalah petani yang cara usahanya masih seperti yang diwariskan oleh nenek moyangnya.
– Petani maju adalah petani yang telah menerapkan teknologi baru dalam usaha atau kegiatan-kegiatan bertaninya dan bersikap maju (progresif).
– Petani teladan adalah petani yang usahanya dicontoh oleh para petani lainnya di lingkungannya, akan tetapi mereka itu sendiri tidak/kurang aktif dalam penyebarluasannya.
– Kontak Tani merupakan petani-petani teladan yang aktif/berperan serta dalam usaha menyebarluaskan teknologi baru kepada para petani di desanya.

@. Media Penyuluhan Pertanian

Menurut bentuknya dibedakan (Samsudin) :
a. Media visual : madia yang sifatnya dapat dilihat (slide, transparansi, gambar mati)
b. Media audio : media yang sifatnya dapat didengar (radio, peta didengar)
c. Media audio visual : media yang sifatnya dapat didengar dan dilihat (televisi, film)
d. Media tempat memeragakan (papan tulis, papan tempel, OHP, papan planel)
e. Media pengalaman nyata atau media tiruan (simulasi, contoh benda nyata)
f. Media cetakan (bukubacaan, leaflet, folder, poster, brosur)


@. Waktu Penyuluhan Pertanian
Untuk melakukan pendekatan-pendekatan haruslah diketahui waktunya yang tepat, sebab pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara serampangan maka salah-salah penyuluh akan mendapat penerimaan yang kurang baik sehingga maksudnya tidak kesampaian. Penyuluh harus mengetahui:
a. Kapan para petani/peternak ada di lapangan, aktif bekerja,
b. Kapan para petani/peternak ada dirumah, bersantai-santai dengan keluarga,
c. Kapan para petani/peternak brkumpul disuatu tempat, bersantai berbincang-bincang mengemukakan berbagai berita dan masalah.
Dengan mengetahui waktu-waktunya itu maka para penyuluh dapat melancarkan metode-metode penyuluihannya yang tepat.

PENUTUP

Kesimpulan.
• Unsur-unsur penyuluhan pertanian yaitu semua unsur (faktor) yang terlibat, turut serta atau diikutsertakan dalam kegiatan pnyuluhan pertanian, antara unsur yang satu dengan unsur yang lain tidak dapat dipisahkan karena smuanya tunjang-menunjang dalam satu aktivitas.
• Penyuluh pertanian adalah orang yang mengemban tugas memberikan dorongan kepada para petani agar mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara hidupnya yang lama dengan cara-cara baru yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, perkembangan teknologi pertanian yang maju.
• Sasaran penyuluhan peternakan yaitu siapa sebenarnya yang disuluh atau ditujukan kepada siapa penyuluhan peternakan tersebut. Sehingga para petani/peternak beserta keluarganya merupakan sasaran penyuluhan peternakan.
• Metode penyluhan merupakan cara-cara yang dapat digunakan dalam menyuluh yang harus bersifat mendidik, membimbing dan menerapkan, sehingga para petani dapat “menolong dirinya sendiri”, mengubah memperbaiki pola pikir, tingkat kerja dan tingkat kesejahteraan hidupnya.
• Dalam proses komunikasi antara penyuluh dengan saasaran penyuluhan, akan disampaikan segala sesuatu yang menyangkut ilmu dan teknologi pertanian-peternakan, kesemuanya itu disebut materi penyuluhan.
• Media penyuluhan yaitu saluran yang dapat menghubungkan penyuluh dengan petani yang memerlukan penyuluhannya.

@. Latihan
1. Jelaskan setiap unsur-unsur penyuhan peternakan?
2. Jelaskan kapan suatu media dikatakan baik dan layak dijadikan media penyuluhan?
3. Jelaskan sifat-sifat masyarakat desa menurut ROGERS!




DAFTAR PUSTAKA

Pembangunan Indonesia : Menyongsong Abad XXI. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jakarta.

Hanafi, A. 1987. Memasyarakatkan Ide-ide Baru. Usaha Nasional. Surabaya.

Suhardiyono, L. 1992. Penyuluhan : Petunjuk Bagi Penyuluh Pertanian. Erlangga. Jakarta.

Samsudin, U. 1997. Dasar-dasar Penyuluhan dan Modernisasi Pertanian. Binacipta. Bandung.

Subekti, S. 2007. Penyuluhan Pertanian. Laboratorium Komunikasi dan Penyuluhan. Jember.

Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press. Surakarta.

Van Den Ban dan Hawkin, 1999, Penyuluhan pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Vitayala, A, Prabowo Tjitropranoto, dan Wahyudi Ruwiyanto. 1992. Penyuluhan.



Selasa, 22 Januari 2013

pendahuluan skripsi penyuluhan dan komunikasi pertanian


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Pada abad 21 pembangunan ekonomi nasional masih akan tetap berbasis pertanian salah satu upaya meningkatkan pengembangan pertanian yaitu melalui pembangunan pertanian. Tanaman padi sebagai penghasil beras merupakan sumber makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia dan menjadi komoditas strategis secara ekonomi. Pembangunan pertanian secara umum pada dasarnya merupakan bagian intregral dan tidak terpisahkan dari pembangunan pertanian.
Pertumbuhan pembangunan di segala bidang yang pesat terutama industri dan pemukiman sangat berpengaruh negatif terhadap pengembangan sektor pertanian khususnya produksi padi, karena menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian khususnya lahan sawah menjadi lahan non pertanian atau non sawah yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Ketahanan pangan adalah suatu program yang diterapkan oleh suatu komunitas atau suatu negara agar ketersediaan pangan di wilayahnya tetap terjaga. Berdasarkan definisi ketahanan pangan dari FAO (1996) dan UU RI No. 7 tahun 1996, yang mengadopsi definisi dari FAO, ada 4 komponen yang harus dipenuhi untuk mencapai kondisi ketahanan pangan yaitu:1) kecukupan ketersediaan pangan. 2)  stabilitas ketersediaan pangan tanpa fluktuasi dari musim ke musim atau dari tahun ke tahun.3) aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan serta . 4) kualitas/keamanan pangan.

Subsektor tanaman pangan terdiri dari tanaman palawija serta tanaman kacang-kacangan, umbi-umbian dan sebagainya. Tanaman holtikultura seperti buah-buahan, tanaman hias, tanaman sayuran dan tanaman sebagainya. Sektor tanaman pangan merupakan penghasil komoditi yang strategis berupa beras yang merupakan makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tanaman pangan merupakan salah satu sub sektor pertanian menjadi Prioritas Provinsi Jambi untuk dikembangkan secara terus-menerus dalam rangka meningkatkan produksi dan pendapatan  pertanian. Salah satu komoditi tanaman pangan yang merupakan andalan bagi Provinsi Jambi adalah padi.
Padi merupakan bahan pangan yang memberikan energi berupa karbohidrat serta zat-zat yang mempengaruhi budaya dan gaya hidup,  tidak dapat dipungkiri bahwa padi menempati pasisi yang sangat sreategis bagi kehidupan masyarakat. Luas panen, produksi dan produksivitas padi sawah di Provinsi Jambi  Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan salah satu kabupaten yang memiliki produksivitas padi sawah tertinggi di Provinsi Jambi. Hal ini di sebabkan karena keadaan wilayah mendukung untuk usahatani padi sawah dan dukungan dari pemerintah sangat kuat melalui kegiatan dan program yang bertujuan untuk meningkatkan produksivitas dan kesejahteraan masyrakat (petani).
Provinsi Jambi sektor pertanian masih menjadi tumpuan hidup bagi masyarakat Provinsi Jambi yang didominasi oleh dua subsektor yaitu tanaman pangan dan perkebunan. Subsektor tanaman pangan yang menjadi andalan di Provinsi Jambi dimana keduanya terus berkembang pada subsektor tanaman pangan adalah tanaman padi sawah. Hal ini dapat dilihat dari luas lahan yang diusakan oleh petani di Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Tabel 1. Luas Area, Luas Panen, Produksi Padi Sawah Per Desa Di Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun 2011
No
desa/kelurahan
Luas  area
(Ha)
Luas panen (Ha)
Produksi
(ton)
1
Simpang
1.600
1.560
       5.928
2
Rawasari
350
350
1.050
3
Rantau Makmur
1.500
1.500
6.000
4
Telago limo
750
734
2.200
5
Sungai Rambut
250
245
735
6
Rantau Rasau Desa
800
800
2.560

Jumlah
5.250
5.189
18.473
Sumber : BP3 Kecamatan Berbak

Kelurahan Simpang adalah salah satu Kelurahan yang berada pada Kecamatan Berbak yang memiliki perkembangan luas areal tanam yang cukup pesat yaitu 1.600 Ha. Dengan luas panen 1.560 Ha dan produksi mencapai 5.928 ton. Luas panen dan produksi menurun untuk kelurahan simpang hal terjadi karena sudah merambahnya tanaman perkebunan sehingga tanaman pangan berkurang, oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sangat mendukung adanya program perluasan lahan persawahan di daerah tersebut.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka upaya untuk memperluas lahan pertanian menjadi sangat penting dengan memanfaatkan dan mengelola sumberdaya lahan dan air yang ada. Melihat pentingnya peranan ketersediaan sumberdaya lahan dan air dalam pembangunan pertanian, maka pemerintah melalui Perpres No. 24 tahun 2010 dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian No. 61/Permentan/OT.140/10/2010, telah menetapkan pembentukan institusi yang menangani pengelolaan sumber daya lahan dan air yaitu Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian yang salah satu tugasnya adalah melaksanakan perluasan areal tanaman pangan. Mengingat potensi lahan yang tersedia cukup luas, maka masih sangat dimungkinkan untuk melaksanakan kegiatan perluasan areal tanaman pangan dengan menambah luasan/ baku lahan, melalui kegiatan perluasan areal tanaman pangan yang sering disebut dengan perluasan sawah.
Pedoman perluasan sawah (2012), Perluasan sawah adalah suatu usaha penambahan luasan/ baku lahan sawah pada berbagai tipologi lahan dengan kondisi yang belum dan atau lahan terlantar yang dapat diusahakanuntuk usahatani sawah. Tujuan kegiatan ini adalah melakukan kegiatan perluasan areal tanaman pangan dengan menambah luas baku lahan tanaman pangan, melalui kegiatan perluasan sawah. Sasaran areal perluasan sawah tahun 2010 – 2014 sesuai dengan Rencana Strategis (Renstra) Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian sebesar 374.125 Ha. Sedangkan sasaran areal perluasan sawah yang dapat dibiayai dari APBN per tahun tergantung pada dana yang tersedia. Manfaat Program ini sangat membantu sekali masyarakat umumnya kecamatan Berbak karena di kala sekarang ini masyarakat gencar memperluas perkebunan tetapi tidak sebagian masyrakat di Kecamatan Berbak Kelurahan Simpang.
Berdasarkan data yang diambil penyuluh di BP3K kecamatan Berbak terdapat program yang sudah dijalankan pada tahun 2012 ini yaitu program percetakan sawah baru yang terdapat di Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Program Percetakan Sawah Baru diadakan oleh Pemerintah pada tahun 2006, namun Program Percetakan sawah baru ini mulai ddilaksanakan oleh Pemerintah Tanjung Jabung Timur dimulai pada  tahun 2009 untuk Kecamatan Berbak.
Pada tahun 2009 Pemerintah mengadakan percatakan sawah 100 Ha di kecamatan Berbak yaitu untuk dua kelompok tani Sido Makmur dan Sido Murni, dan pada tahun 2012 ini juga  memperluas lahan untuk perluasan  sawah baru ini sekitar 100 Ha. Kelompok tani sido mukti dan  tunas harapan, masing-masing mendapat dana Rp 10.000.000  Perhektarnya, untuk kelompok tani Sidomukti yang terdiri dari 43 petani mendapatkan percetakan sawah baru sebesar 55 Ha dan Tunas Harapan yang terdiri 33 petani mendapat 45 Ha, dana tersebut di cairkan dengan cara bertahap, dana 40 % berbentuk saprodi dan 60% berbentuk uang. Pengadaan dana program percetakan sawah baru  merupakan anggaran dana kementrian pertanian berasal dari APBN yang berupa dana bantuan sosial. Pengerjaannya program percetakan sawah ini telah selesai dilakukan penanamanya 100 %, yang di lakukan oleh dua kelompok tani yaitu kelompok tani sidomukti. Target Pemerintah untuk program percetakan sawah baru ini adalah 100 Ha dan program ini diawasi oleh pemerintah dari mulai penanaman sampai dengan panen.
Syarat untuk mengikuti Program percetakan sawah baru adalah  petani harus tergabung dalam kelompok, dengan mengajukan RUKK(rencana usulan kegiatan kelompok) dan mengajukan awal ke kelurahan dan kelurahan mengajukan ke dinas, dengan RUKK(rencana usulan kegiatan kelompok)dan minta bantuan karena petani memiliki lahan sedikit sementara petani mempunyai lahan yang sebenarnya potensial untuk tanaman padi tetapi petani mengalami kesulitan dana membuka lahan.
Program percetakan sawah baru ini bertujuan untuk dapat membantu sedikit dari upaya Pemerintah meningkatkan Produktivitas dan Ketahanan Pangan Khususnya di Wilayah Tanjung Jabung Timur, upaya penambahan ini dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini :
Berikut ini tabel.2  penambahan luas lahan sebelum dan sesudah percetakan sawah baru.
No
Desa/kelurahan
Lahan yang di usahakan (ha)
Penambahan (ha)
Target pemerintah (ha)
Swasembada (ha)
1
Simpang
1600
100
1700
14
2
Rawasari
350
-
-
-
3
Rantau Makmur
1.500
-
-
-
4
Telago limo
750
-
-
-
5
Sungai Rambut
250
-
-
-
6
Rantau Rasau Desa
800
-
-
-

            Pada tabel di atas menjelaskan bahwa dalam percetakan sawah baru ini memang ada target dari Pemerintah khususnya pada Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak, terlihat pada tahun 2011 luas areal sawah yang di usahakan adalah 1600 Ha, dan ada penambahan dengan adanya program percetakan sawah baru 100 Ha , sedangkan target pemerintah 1700 Ha dan ternyata memenuhi bahkan lebih, itu terjadi karena petani yang harusnya mengelola penambahan sawah baru 100 Ha ternyata petani mengelola dana tersebut untuk menambah percetakan sawah baru dengan mengambil sedikit dari anggaran dana harusnya Rp 10.000.000 menjadikan Rp 8.771.929 sehingga petani dapat mengusakan lebih dari yang di anggarkan.
Berdasarkan hasil survey lapangan tahun 2012 di Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung  Timur, Mayoritas masyarakatnya bersal dari jawa yang melakukan transmigran, bahasa yang di gunakan sehari-hari oleh petani juga bahasa daerah jawa, bahkan PPL pun mayoritas orang jawa juga. Sosialisasi  atau penyuluhan yang dilakukan PPL terkadang menggunakan bahasa jawa. Hal ini dilakukan agar petani tidak terlalu mengalami kesulitan dalam menerima pesan yang diberikan oleh PPL. Kondisi daerah penelitian ternyata belum ada media pendamping petani untuk mendapatkan informasi tentang Program Percetakan Sawah baru, petani hanya mengandalkan PPL sementara PPL berkunjung kepada petani jika ada permintaan / kasus petani yang didalam petani. Hal ini yang menyebabkan petani kekurangan akses informasi, oleh karena itu petani membutuhkan media pendamping yang dapat mereka baca setiap saat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media yang efektif dalam rangka membantu mensosialisasikan Program Percetakan Sawah Baru (PPSB) dengan memanfaatkan bahasa dalam menginformasikan kegiatan.
            Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini perlu dilakukan penelitian kelurahan simpang kecamatan berbak  Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan penulis tertarik terhadap program tersebut dan juga Untuk melakukan penelitian yang berjudul ”Pengaruh Bahasa Pada Buklet Terhadap Peningkatan Pengetahuan Petani  Tentang Program Percetakan Sawah Baru Di Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak“




1.2 Rumusan Masalah
Kebutuhan pangan khususnya beras semakin lama semakin meningkat sejalannya pertumbuhan peduduk yang semakin padat, selain itu sejalan dengan persaingan dengan antara padi dengan sektor perkebunan lainnya membuat ketahanan pangan nasional semkin menurun oleh sebab itu program  percetakan sawah baru ini dilakukan agar menimalkan angka menurunnya Ketahanan  Pangan Nasional.
Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur melaksanakan program percetakan sawah baru di kecamatan berbak kelurahan simpang dengan 2 kelompok tani yaitu kelompok tani sido mukti dan tunas harapan. Program ini dilakukan di kelurahan simpang ini karena mengajukan RUKK yang di buat atas nama kelompok tanidan mengajukan  ke dinas setempat, rencana itu dilakukan karena petani setempat ingin menambah luas areal sawah tetapi keterbatasan biaya untuk membuka lahan sendiri.
Kelurahan Simpang Kecamatan Berbak Kabupaten Tanjung Jabung  Timur, Mayoritas masyarakatnya bersal dari jawa yang melakukan transmigran, bahasa yang di gunakan sehari-hari oleh petani juga bahasa daerah jawa, bahkan PPL pun mayoritas orang jawa juga. Sosialisasi  atau penyuluhan yang dilakukan PPL terkadang menggunakan bahasa jawa. Hal ini dilakukan agar petani tidak terlalu mengalami kesulitan dalam menerima pesan yang diberikan oleh PPL. Kondisi daerah penelitian ternyata belum ada media pendamping petani untuk mendapatkan informasi tentang Program Percetakan Sawah baru, petani hanya mengandalkan PPL sementara PPL berkunjung kepada petani jika ada permintaan atau kasus petani yang didalam petani. Hal ini yang menyebabkan petani kekurangan akses informasi, oleh karena itu petani membutuhkan media pendamping yang dapat mereka baca setiap saat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan media yang efektif dalam rangka membantu mensosialisasikan Program Percetakan Sawah Baru (PPSB) dengan memanfaatkan bahasa dalam menginformasikan kegiatan.
Berdasarkan uraian di atas maka di ambil rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat meningkatkan pengetahuan petani tentang program percetakan sawah baru di kelurahan simpang?
2.      Apakah penggunaan bahasa Indonesia dapat meningkatkan pengetahuan petani tentang percetakan sawah baru di kelurahan simpang?
3.      Apakah terdapat pebedaan antara penggunaan Bahasa jawa dengan bahasa Indonesia terhadap peningkatan pengetahuan petani tentang program percetakan sawah baru diKelurahan Simpang









1.3 Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang ada maka tujuan dari penelitia tersebut adalah
1.        Mengetahui apakah penggunaan Bahasa Jawa dapat meningkatkan pengetahuan petani di Kelurahan Simpang
2.      Mengetahui apakah penggunaan Bahasa Indonesia dapat meningkatkan pengetahuan petani di Kelurahan Simpang
3.        Mengetahui apakah terdapat pebedaan antara Bahasa Jawa dengan Bahasa Indonesia terhadap peningkatan pengetahuan petani tentang Program Percetakan Sawah Baru (PPSB) di Kelurahan Simpang
1.3.2 Kegunaan Penelitian
1.      Sebagai salah satu syarat dalam  menyelesaikan studi tingkat Sarjana (S1) pada Fakultas Pertanian Universitas Jambi.
2.      Hasil penelitian ini berguna bagi peneliti dan pihak yang berkepentingan sabagai bahan masukan, informasi dan penambahan pengetahuan.
3.      Pengembangan ilmu komunikasi yang berkaitan dengan komunikasi di bidang pertanian